Your Ad Here

Monday, September 8, 2008

Zakat & Sholat setali tiga uang

ZAKAT DAN KESEDERHANAAN HIDUP
SEBAGAI CERMIN KEBERHASILAN SHOLAT


Assalamu'alaikum, tengok kanan lalu tengok kiri adalah happy ending sebuah perjalanan mi'raj seorang muslim. Ketika dada seorang yang mengerjakan sholat mengembang lapang bahagia maka akan berdampak pada ruang dan waktu. Ruang tersebut tercermin dari berapa jarak radius kemampuan kita menerapkan salam, Islam,...Assalamualaikum tadi. Sebagian ada yang hanya beradius seputar dirinya yaitu rejeki diri sendiri, karir-karir pribadi, pemahaman-pemahaman atas pengetahuan diri, ringkasnya keselamatan individual mulai dari yang fisik dunia sampai yang ruh akhirat. Sebagian mengembang sampai ke radius tetangga kampung, regional, nasional, internasional bahkan ada yang telah lepas dari ruang itu sendiri yang bergelar rahmatan lil alamin. Waktu dari dampak sholat juga bermacam-macam. Ada yang setelah salam langsung ingat keruwetan pekerjaan, rumah tangga, hutang piutang dll. Ada yang lapang khusyu'nya bertahan menitan, jam, antar waktu shalat bahkan ada yang bertahan selama-lamanya menembus batas waktu itu sendiri yang disebut daaiman 'abada...
Dalam shalat seseorang berhubungan secara vertikal maka ketika salam, ini adalah awal anak manusia berhubungan dengan Tuhan secara horizontal karena setiap yang yang hidup atau benda matipun terliputi Allah, karena Allah itu Maha Ahad, satu adanya tak bisa terpecah oleh pemahaman pikiran manusia. Hubungan horizontal ini biasa disebut asah asih asuh, dalam penerapannya adalah kita menzakatkan diri untuk orang lain. Zakat tidak melulu sebuah materi karena tidak semua orang mempunyai materi berlebih. Konsep zakat adalah menghilangkan keakuan, karier dan keselamatan pribadi karena kita telah bermiraj dalam shalat dan mengakui ketidak ada apa-apanya diri ini, fana... Karena keakuan inilah yang selalu muncul tiap detik menyerimpung dan menghijab. Seakan-akan sedetik kafir sedetik beriman yang selalu berulang terus menerus.
Dalam budaya Jawa ada idiom yang berlaku sehari-hari ( entah saat ini masih dijalankan atau nggak ) yaitu monggo njenengan riyen dan mangan ora mangan kumpul ( silahkan anda dulu dan makan tidak makan kumpul )....adalah sebuah konsep zakat untuk menghilangkan rasa menang sendiri, senasib sepenanggungan. Falsafahnya adalah karena hidup harus dijaga dan tentu saja kalau kita renungkan sejenak maka semua yang datang kepada kita adalah dari yang Maha Hidup, Al Hayyu. Maka menjaga hidup adalah upaya bersilatun kepada Allah. Adapun kalau yang datang itu sesuatu yang tidak mengenakkan ( jahat ) itu hanyalah pikiran liar yang harus di " ihdinasiraathal mustaqim " kan, dikembalikan kepada Allah dimintakan jalan lurus, nggak boleh merasa mampu membenarkan, nggak boleh destruktif karena hidup harus tetap dijaga.
Rasulullah adalah orang yang benar-benar menzakatkan diri untuk umat, bahkan Beliau bagaikan tanah yang diwakafkan di mana di situ tidak ada secuilpun milik pribadi kecuali makanan untuk sekedar menguatkan badan dan berteduh, itupun sering nggak ada karena keburu dikasihkan orang yang menderita kelaparan di sekitarnya. Apakah Rasulullah bersikap begini karena berpaham sosialis, berfilosofi, atau ewuh pakewuh sungkan ? Tentu saja bukan. Rasullullah menjalani hidup seperti ini karena telah mencapai kesaksian yang sempurna, dampak dari kefanaan sholat yang menembus ruang waktu. Tanpa doktrin tanpa otak-atik otak, ikhlas.
Dalam shalat beliau telah menemukan suatu wujud yang Ahad, dimanapun menghadap wajah Allah sehingga dalam keseharian selalu terbawa sampai-sampai beliau nuturi kita bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaat buat sekitar atau kita adalah satu bagaikan anggota badan, kalau sebagian sakit maka sakitlah diri kita semua karena semua satu adanya.
Kalau suatu saat kaki kita sakit misalnya kena asam urat, dan kita orang yang masih berfikiran normal maka wajar kalau setiap detik fokus kita akan selalu tertuju pada kaki, kondisi hati trenyuh, akal berfikir cari obat. Tapi kalau kita hidup penuh nafsu maka yang terjadi....biar kaki sakit gini aku masih pengen ke cafe makan-makan enak, ngobrol 2 buat melupakan rasa sakit. Lebih samar dan intelek biar nggak kelihatan nafsunya ya ngobrolnya tentang kesehatan..tentang kondisi kaki yang sakit..
Analogi diatas adalah contoh analogi kewarasan dan kesempurnaan penyikapan Rasulullah terhadap umat dan ketidak warasan diri kita. Rasulullah yang selalu merasa satu dengan umat dan selalu konek dengan Ahad pada kehidupan sehari-hari selalu merasakan penderitaan para dhuafa sehingga fokus beliau tiap hari adalah terjun langsung menyantuni dan advokasi. Beliau ingin masyarakat sehat, masyarakat madani baldatun toyyibatun warobbun ghofur...Wasilah beliau untuk menyelesaikan kondisi yang buruk bukan ber-elit politik mendirikan negara, partai, organisasi, dan lembaga-lembaga. Bisa saja beliau menggunakan cara melobi ke arus atas yaitu Persia dan Romawi, atau penguasa suku-suku Arab, bikin pertemuan-pertemuan di tenda-tenda yang penuh gelimangnya dunia atau di bangunan Romawi yang berlapis emas dan marmer, bikin semacam proposal dan berbagai alasan untuk mendapat sedikit cipratan kemakmuran negara adidaya waktu itu. Tetapi itu tidak dilakukan. Wasilah beliau adalah turun gunung berzakat, beliau mendermakan seluruh hidupnya untuk orang yang sakit, tertindas teraniaya dan terpinggirkan. Mengapa ? Ya karena beliau paham betul bahwa itu semua adalah bagian dirinya sendiri yang sakit. Sakitnya duafa yang tak terobati sangat-sangat bisa menyempitkan dada dan rasullullah tak sudi dadanya sempit, maka beliau ber"shalat" secara horizontal selain yang lima waktu itu.
Sedangkan kita ini terkadang lucu...sering saya temui ada seminar masalah ekonomi dan politik tentang pengentasan problema umat yang tentu saja diselenggarakan di hotel dengan sajian makanan yang belum pernah dijamah duafa. Semua atas nama umat dan yang terentaskan tentu pengurusnya dulu dan para aktivisnya, yang pasif nggak apalagi yang nggak ikut. Semua dilakukan dengan dalih otak " ini adalah strategi dan manajemen ". Ribuan acara semacam ini sangat laris di Indonesia dan berlangsung puluhan tahun. Dan hasilnya ... simak saja ... di Jakarta makin banyak gedung-gedung mewah fasilitas canggih bahkan sekarang ada yang memakai istilah Arab biar terkesan "Islami" berpelukan mesra dengan gubuk-gubuk reyot di pinggir kali. Jakarta adalah sentral dan miniatur Indonesia maka di daerah lain ya begitu-begitu juga. Dan semua pembelaan atas realitas ini adalah kembali dengan menyalahkan kebodohan kaum duafa dengan berbagai macam tuduhan dan logika berfikir sambil di sisi lain mengatasnamakan mereka sebagai komoditi.
Kalau lelaku Rasulullah yang sangat sederhana kita anggap tidak cocok dengan strategi perjuangan muslim modern, bagaimana dengan tokoh sejarah modern Mahatma Gandhi atau bunda Theresa yang hidup sangat sederhana dan selalu bergumul langsung dengan kaum duafa? Kekuatan pribadi beliau yang solois solitaire mampu mengalahkan peran organisasi atau partai yang mempunyai banyak pengikut dan tertata rapi. Kekuatan beliau-beliau ini adalah kekuatan tanpa benda, kekuatan ruh. Model proses inilah akan terlahir secara sunatullah apa yang disebut sang penyampai, kyai ulama sebenarnya. Bukan ulama preprogrammed instant atau ulama yang ditahbiskan media dan dicetak oleh kepentingan-kepentingan sebuah perebutan hegemoni kekuasaan, pun akhirnya ulama tersebut bermental seperti penguasa yang maunya disowani, kalau ngomong harus seratus persen diturut bak sabdo pandito ratu yang lagi beraksi bersyirik ria secara halus menandingi kewibawaan Allah...kalau nggak nurut kafir...kalau ngundang ya harus professional ( fee-nya mahal ), kalau amplopnya tipis ya doanya cukup Rabbana atina..dst.
Di lain hal tentu saja sederhana bukan berarti tidak punya apa-apa karena sesungguhnya lawan sederhana adalah mubadzir. Sederhana adalah professional, mubadzir adalah katrok... Kalau saya seorang ahli IT maka mempunyai laptop seharaga 20 juta keatas bukanlah barang mewah, bahkan wajib karena tanpa laptop seharga segitu yang memiliki spesifikasi mumpuni, saya tidak bisa menyelesaikan suatu requirement program. Tapi disaat lain bila saya membeli baju seharga 500 ribu maka itu adalah kemewahan, keharaman pribadi dan kekatrokan luar biasa karena saya bukan seorang model. Kalaupun saya sampai menganggap baju yang mahal ada hubungan pekerjaan itu tidak lebih dari ketidak PeDe an karena sempitnya dada dan wawasan saja. Jadi sederhana terletak pada nilai mubadzir atau fungsional, bukan angka. Dampaknya tentu saja akan banyak sisa anggaran yang dapat disalurkan kepada para dhuafa.
Sangat tidak mengherankan bila dalam Al Qur'an dan petuah Rasul selalu mengingatkan celakanya orang sholat yang tidak mampu merasakan penderitaan bersama. Karena memang ini akan selalu terjadi pada orang yang merasa beriman bahkan telah merasa karib dengan Allah. Padahal kalau dihitung taruhlah paling khusyu sholat sekitar 30 menit dikalikan 5 waktu = dua setengah jam. Lalu selebihnya menghadap siapa ?...Karib kepada apa dan siapa?..Maka zakatlah sebagai silatun setelah usai sholat.
Jangan-jangan kalau kita tidak mampu memaknai zakat maka kondisi negara kita semakin ironi seperti negara India dimana seluruh penjuru dunia barat dan timur banyak mengangggap disana "Mekkah" nya kaum spiritualis tingkat tinggi, pusat kebudayaan misteri dunia, pendekar-pendekar olah jiwa bertebaran, ajaran terluhur, ghaibnya ilmu ghaib, dan segala yang berhubungan dengan rahasia ruh dan jaman tetapi masyarakatnya yang kere ya kere sekere-kerenya, yang glamour seperti artis Bollywood tingkat kekayaannya bahkan melebihi artis Hollywood. Semuanya bergandeng intim ditengah terjadinya konflik kesenjangan sosial, politik, etnis dan agama. Atau di negara kita juga sedang terjadi ? tau.....
Maka sudah waktunya kita mewakafkan diri, menzakatkan diri kepada para duafa sekhusyu sholat,.Dan bagi yang merasa bergelar ulama, kyai, gus, tuanku guru, ajengan, ustadz, bindere, pemikir Islam, aktivis Islam dan wak haji mohon segera all out turun gunung, turun kampung ke pelosok-pelosok, bawah jembatan untuk menyelesaikan segala problem kaum dhuafa secara riil karena dada saya saja sesak melihat itu, masak sampeyan pejuang-pejuang Islam yang dimuliakan umat enteng-enteng saja. Jangan kalah mental dong sama UGD 24 jam atau PSK yang mau meladeni tamu walaupun ngantuk dan lagi datang bulan demi kesehatan dan kepuasan orang lain. Kalau nggak mau total menemani umat ya pensiun aja jadi ulama, mending jadi makmum, jadi orang kebanyakan seperti saya, lebih merdeka. Soalnya terus terang sampai saat ini saya sih bisanya zakat cuman cangkrukan nyumbang ngobrol ngalor ngidul di milis ini siapa tahu ada manfaatnya..lha wong saya sendiri sampai saat ini masih terlilit hutang yang belum terbayar sepeserpun selama berbulan-bulan. Yaah...beginilah enaknya jadi makmum yang syahadatnya pas-pasan...bisa protes...lha wong nabi saja kadang juga diprotes sahabatnya.....
Wassalam

Sumber:
Dody Ide - DODY ISKANDAR

Mari bergandeng tangan dalam berkarya & menjemput sukses


No comments: